Oleh: denihend | 11 Maret 2009

Cinta dan Waktu

Pada suatu pulau tinggallah di sana semua jenis perasaan, di antaranya adalah kekayaan, kesombongan, kesenangan, kesedihan, ilmu, dan yang lainnya termasuk cinta. Namun pada suatu hari diumumkan kepada semua perasaan bahwa pulau itu akan tenggelam ke dasar lautan. Tidak lama kemudian semua perasaan bergegas mempersiapkan perahu masing-masing untuk pergi dari pulau tersebut.

Betapa Berartinya Cinta

Betapa Berartinya Cinta


Tinggallah cinta seorang diri. Dia memutuskan untuk tinggal dan memelihara keindahan pulau itu sampai saat-saat terakhir. Namun ketika pulau itu hampir sepenuhnya tenggelam, akhirnya cinta memutuskan untuk segera pergi. Dia mulai mencari pertolongan dari teman-temannya. Tak berapa lama, kekayaan lewat sambil mengemudikan perahunya yang besar dan megah.

Kemudian cinta bertanya, “Kekayaan, bolehkah aku ikut perahumu?” Kekayaan menjawab, “Maafkan aku, tapi kapalku sudah penuh dengan emas dan perak. Tak ada lagi tempat untukmu.”

Lalu kesombongan lewat dengan kapalnya yang indah. Sekali lagi cinta memohon, “Kesombongan, tolonglah aku!” “Aku tak bisa menolongmu!” Jawab kesombongan. “Kamu basah kuyup, aku takut kapalku yang indah ini akan rusak!!!”
Kemudian cinta melihat kesedihan lewat, cinta berkata, “Kesedihan, izinkanlah aku ikut denganmu!” Kesedihan berkata,”Maafkan aku, cinta. Saat ini aku sedang ingin sendiri.”

Akhirnya cinta melihat perahu kesenangan lewat. Cinta menjerit memohon, “Kesenangan, tolong bawa aku bersamamu!” tapi kesenangan terlalu larut dengan kegembiraannya hingga tidak mendengar jeritan cinta memanggilnya. Cinta mulai menangis dan putus asa, ketika tiba-tiba dia mendengar suara berkata, “Ayo cinta, aku akan membawamu pergi bersamaku.” Ternyata seorang kakek tua yang telah berbaik hati mengajaknya serta. Ketika mereka telah mendarat pada suatu pulau, kakek itu segera pergi meneruskan perjalanannya.

Sementara cinta merasa sangat senang dan berbahagia hingga dia lupa untuk mengucapkan terima kasih pada kakek yang telah menyelamatkannya. Cinta sadar betapa ia sangat berhutang budi pada kakek itu.

Kemudian cinta bertemu dengan ilmu dan bertanya, “Siapakah kakek yang telah menyelamatkanku itu?” “Dia adalah waktu,” jawab ilmu. Tetapi mengapa waktu mau menolongku sementara yang lain tidak?” tanya cinta. Ilmu tersenyum lalu dengan bijak dan tulus menjawab, “Karena hanya waktu yang mampu memahami betapa agungnya cinta.”


Responses

  1. subhanallah baguss bagett pak..
    salam kenal ajah darii saya..

    mhasiswi akatelkom (smester2) hehe

    • Makasih Rani atas apresiasinya.
      Ini juga sedang belajar, mungkin kita bisa share dalam menulis di blog.
      Salam kenal kembali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: