Oleh: denihend | 13 Juli 2010

Belajar Untuk Pantang Mengeluh

114921p

Keluh kesah dalam hidup adakalanya memang menjadi suatu dinamika kehidupan. Namun pantaskah jika kita terus menerus mengeluh? Sesungguhnya jika mau berusaha, maka kita akan mampu untuk mengubah suatu kebiasaan hidup yang penuh keluhan tersebut. Kuncinya adalah kita mau berusaha untuk berubah dari hati yang sempit menuju hati yang lapang. Hati yang siap menerima segala macam pernak pernik kehidupan. Hal ini memang tidak mudah. Namun tetap harus diusahakan.

Ada satu kisah, pada suatu ketika datang seorang anak muda kepada seorang bapak yang bijaksana. Langkahnya gontai dan raut mukanya terlihat ruwet dan tampak seperti sedang tidak bahagia. Pemuda itu pun langsung menceritakan masalahnya pada orang tua tersebut.

Bapak tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama dan dia pun mengambil segenggam kopi dan meminta anak muda tersebut mengambil segelas air. Kemudian ditaburkan kopi itu ke dalam segelas air dan diaduknya.

“Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” ujar si bapak tua.

“Pahit …pahit sekali,” jawab anak muda sambil meludahkannya kembali. Bapak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di tengah hutan dekat tempat tinggalnya.

Sesampainya di tepian telaga yang tenang, bapak tua menaburkan segenggam kopi ke telaga itu. Dengan sebatang kayu dibuatnya gelombang dengan cara mengaduk-aduk air telaga.

“Coba, ambil air di telaga ini lalu minumlah,” ujar bapak tua.

Ketika si pemuda selesai mereguk air dari telaga, bapak tua berkata lagi,”Bagaimana rasanya?”

“Segar,” sahut anak muda itu.

“Apakah kamu merasakan rasa kopi di air tadi?” tanya bapak tua.

“Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan bijak bapak tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu lalu duduk berhadapan, bersimpuh di tepian telaga itu.

“Anak muda, dengarlah.  Pahitnya kehidupan layaknya segenggam kopi, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan tetap akan sama,” kata bapak tua.

“Namun, kepahitan yang kita rasakan akan bergantung wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan pada perasaan tempat kita meletakkannya. Itu semua bergantung pada hati kita. Jadi, ketika kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu,” lanjut bapak tua.

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qolbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mampu mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan,” nasehat bapak tua lagi.

Yakinkanlah pada diri sendiri bahwa kita tidak mudah mengeluh dan tidak akan mudah menyerah, karena mengeluh dan menyerah hanya ada dalam diri seorang pecundang. Mengeluh tidak ada dalam kamus seorang pribadi positif, karena orang yang berhati, berfikir, dan bertindak positif adalah orang yang pantang mengeluh. (Sumber: Abdurahman Yuri)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: